cheat_in_exam

Jangan Salah, Siapa Bilang Nyontek Itu Nggak Boleh

This entry was posted on Sunday, October 27th, 2013.

Sebelum saya bicara panjang lebar di artikel ini, saya mau ngelurusin dulu terkait pemahaman tentang istilah “nyontek”, karena hampir dalam hal apapun jika istilah nyontek ini diucapkan, sering kali terkesan negatif dan buruk. Jangan salah bro, percaya nggak percaya, hampir semua nyontek dalam dunia ini sebenernya dibenarkan, kecuali nyontek dalam ujian. Sebenernya sih nyontek dalam ujian juga terkadang diperbolehkan asal rukun dan syaratnya terpenuhi. Rukun dan syaratnya yaitu: 1) udah belajar mati-matian dan hampir mati beneran; 2) bener-bener darurat dan kalo nggak nyontek kita bakalan ditangkep agen FBI, terus dihukum mati dengan cara dikuliti, dimutilasi dan dijadiin santapan ikan-ikan hias di Amazon; dan yg terakhir, 3) nggak ketahuan pengawas ujian. :D

Nyontek semula berasal dari kata nyontoh, yg artinya mencontoh atau meniru. Ya mencontoh dalam hal apa aja. Misalnya, mencontoh guru matematika menerapkan teorema pythagoras buat ngehitung hipotenusa dari sebuah lapangan berbentuk segitiga (saya nggak tau ada atau nggak lapangan berbentuk segitiga). Atau mencontoh cara ibu memasak nasi goreng spesial dengan telor mata sapi. Atau bisa juga mencontoh gerakan fusion Son Goku dan Vegeta untuk menjadi Gogeta. Atau bisa juga mencontoh gerakan jurus kuchiyose no jutsu-nya Naruto. Atau apapunlah, intinya nyontek atau mencontoh adalah sebuah kegiatan untuk meniru sesuatu yang pernah dilakukan atau dihasilkan oleh orang lain atau sesuatu.

cover_kuchiyose

So… sebenernya, semua proses belajar itu berawal dari adanya tindakan mencontek terlebih dahulu. Hampir mustahil belajar tanpa adanya proses pencontekan terlebih dahulu.

Kita diajarkan buat nyontek perilaku Nabi Muhammad SAW, bertutur katanya, sopan santunnya, kejujurannya, keberaniannya, kesholehannya. Sejak kecil kita juga udah diajarin banyak hal oleh orang tua kita, mulai dari diajarkan buat ngucapin “papah” dan “mamah”. Bayangkan kalo nyontek itu nggak boleh, terus gimana dong cara kita bisa ngobrol dengan bahasa yang sama? Nggak mungkin dong ketika kita kecil orang tua kita bilang gini “Awas kamu nanti kalo nyontek bahasa papah dan mamah (bahasa Indonesia)! Kamu harus kreatif dan bikin bahasa sendiri! Papah dan mamah nggak akan ngajarin kamu bahasa Indonesia, karena papah dan mamah nggak mau kamu lahir dengan kebiasaan suka nyontek. Dan juga, kamu nggak boleh berjalan dengan dua kaki, karena itu udah papah dan mamah lakuin, kamu harus kreatif dengan gaya berjalan yang baru yang belum ada orang yang ngelakuin! Dan inget, jangan sekali-kali kamu nyontek papah dan mamah dengan tinggal di rumah yang sama dengan papah dan mamah. Kamu harus kreatif dan tinggal ditempat yang baru dan nggak boleh nyontek!”

Kreatifitas juga bermula dari proses mencontek lho. Ya, kreatifitas itu lho… yg selalu menggunakan imajinasi juga bermula dari proses nyontek. Karena kita sebenernya hanya mampu membayangkan sesuatu yg pernah kita ketahui (dataabase pengetahuan kita). Ambil contoh yang sederhana, yaitu tangan. Apa yang kamu bayangin kalo mendengar istilah tangan? Pasti yang kebayang adalah nggak jauh dari tangan manusia atau hewan kan? Ada sepasang? Punya jari-jari tangan? Punya siku? Punya jari? Ya kira-kira itu kan yang ada dipikiran kita. Kita nggak bisa membayangkan tangan dengan sesuatu yang belum pernah kita lihat atau indra sebelumnya. Contohnya kalau di kitab suci Tuhan berkata “tangan-tangan-Ku”, kadang kita selalu membayangkan tangan itu seperti tangan kita. Itu karena hanya itu yang mampu kita bayangkan. Padahal boleh jadi tangan yang dimaksud Tuhan tidak selalu sama dengan yang kita bayangkan, hanya imajinasi kita saja yang dibatasi oleh pengetahuan kita tentang tangan. Mungkin kita bisa saja membayangkan ada tangan yang memiliki mata seperti punya Danzo (Naruto), atau imajinasi lainnya. Namun tetep saja, imajinasi kita hanya mampu membayangkan sesuatu yang pernah kita ketahui, tangan ya seperti tangan, mata ya seperti mata. Karena seperti itulah pengetahuan kita tentang tangan dan mata. Kalaupun ada atribut lainnya, seperti ada tambahan bulu, pisau, tanduk, belang, tetap saja itu sesuatu yang kita ketahui atau pernah kita ketahui. Dan itulah sebenernya kreatifitas, menggabung-gabungkan sesuatu dari pengetahuan kita untuk membuat sesuatu yang lebih baik atau menjadi sesuatu yang baru.

Danzo_s_Right_Arm_209

So.. sekali lagi saya bilang, kreatifitas juga bermula dari proses mencontek. Adanya pesawat terbang, bermula dari kegiatan manusia ingin meniru burung yang bisa terbang bebas di angkasa. Bayangkan jika seandainya di dunia ini nggak ada mahluk yang bisa terbang sama sekali juga nggak pernah ada kegiatan melempar benda ke udara, mungkinkah manusia terbayangkan untuk membuat sebuah alat untuk terbang?

Pernah denger pernyataan, menulis itu temannya membaca, semakin banyak yang kita baca, maka semakin banyak dan mudah kita menulis? Itu karena ketika membaca, maka database pengetahuan kita akan bertambah, sehingga akan banyak juga yang bisa disampaikan. Begitu juga dengan kreatifitas. Semakin banyak kita mengamati, semakin banyak kita belajar, semakin banyak kita nyontek, maka database imajinasi kita akan bertambah. Sehingga ketika terjadi sebuah masalah, maka kita bisa ambil query dari pengetahuan kita dan mengabung-gabungkannya hingga menjadi sebuah kreatifitas untuk menyelesaikan masalah.

Kembali ke nyontek-nyontekan. Saya mau sedikit cerita tentang bagaimana cara saya bisa cumlaude pas kuliah. Eeitz…. jangan berpikiran negatif dulu. Walaupun temanya adalah nyontek, tapi bukan berarti saya cumlaude karena nyontek. Baca aja dulu, ceritanya akan bergulir sebentar lagi.

Kampus saya emang bukan kampus besar dan terkenal, seperti Harvard, UI, ITB atau UGM. Pokoknya hanya orang-orang terpilih saja yang tau keberadaannya. Ya, mari kita anggap kampus saya bukan kampus mainstream. Ketika saya menyebut nama kampus saya ke orang biasa, maka akan ada pertanyaan selanjutnya, yaitu “dimana tuh?”. Saya sih maklum saja, karena dia orang biasa, dan bukan termasuk orang-orang yang dipilih tuhan untuk tau.

Saya kuliah di Universitas Respati Indonesia (URINDO), Fakultas Teknologi Informasi, Jurusan Teknik Informatika. Sebuah kampus kecil dan eksklusif di pinggiran kota Jakarta Timur.

Saya sih tau cumlaude di kampus ini, mungkin bukan berarti apa-apa jika dibandingkan dengan cumlaude di ITB. Tapi ini bukan tentang kebanggaan atau nama besar kampus, karena memang saya nggak mau jadi orang besar dengan mendompleng dari nama kampus, ini adalah tentang kesungguhan. Bahwasanya dimana pun kamu berada, entah itu ada di tempat yang kecil yang mungkin tidak ada orang yang tau atau di tempat besar sekali, jika kamu bersungguh-sungguh menjalaninya kamu akan dapat hasil yang baik. Ingat bro, nggak pernah ada yang sia-sia kalo kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh, kalo pun gagal, pasti ada sesuatu yang bisa kamu dapet, ya dalam hal apa pun itu.

Kembali lagi ke cerita yang saya mau ceritain tadi. Dulu, waktu saya semester awal, pas masih cupu-cupunya dan belum terlalu ganteng dan masih jadi anak bawang, ada 2 orang tokoh mahasiswa yang saya kagumi. Dua tokoh itu sangat dikenal dikampus, ya walaupun hanya di kenal di kampus doang (mereka belum pernah bikin video youtube kayak Udin Sedunia). Mereka dikenal bukan dalam hal yang sama. Yang satu, dikenal sebagai seorang pemimpin yang bijak dan aktif dalam organisasi, dia presiden BEM, namanya Anas Djabo. Semua orang kenal dia, bahkan namanya aja udah disegani. Tokoh satunya lagi dikenal sebagai sosok yang cerdas, mahasiswa teladan, sangat baik dalam perkuliahan. Dia dikenal banyak dosen dan staf fakultas, karena selalu menonjol di kelas, namanya Rika Fuji Astuti.

Saya sering mengamati mereka, dan sering bertanya-tanya, mengapa mereka bisa seperti itu. Hanya saja sayang, mereka itu adalah orang yang berbeda. Menurut saya akan lebih keren lagi jika mereka itu satu orang yang sama, jadi selain sebagai seorang pemimpin yang baik dan aktif di organisasi, juga termasuk orang yang cerdas dan baik dalam perkuliahan. Oleh karena itu, saat itu saya punya tekad buat belajar dan nyontek mereka kemudian jadi lebih baik dari mereka. Saya ingin aktif di organisasi dan menjadi pemimpin yang baik seperti Anas, tapi saya juga ingin menjadi mahasiswa yang baik dan cerdas, yang punya nilai memuaskan dalam perkuliahan seperti Rika. Saya juga mau membuktikan bahwa salah jika orang yang aktif di organisasi tidak bisa baik kuliahnya.

Saya belajar gimana cara Anas bicara di depan umum, cara dia nyapa orang, cara dia berpikir dan menyelesaikan masalah. Bahkan saya juga terkadang meniru hal-hal sederhana yang dia lakukan, seperti ketika dibonceng motor maka tangannya akan dilipat didepan dada, entah maksudnya apa saya cobain ikutan, Cuma ingin melihat seuatu dari sudut pandang dia. Ketika dalam berorganisasi, dan ada masalah saya selalu berpikir, seandainnya Anas di posisi saya, apa kira-kira yang dia pikirkan dan lakukan. Sama seperti ke Anas, saya pun belajar dari Rika, gimana dia bisa dekat dengan dosen-dosen, gimana dia bisa dikenal di fakultas, gimana cara dia bisa menonjol di kelas. Ya banyak sekali dari mereka yang saya contek.

Al-hasil saya aktif di organisasi dan pernah menjabat sebagai Bidgar Media Informasi BEM, Divisi Dakwah dan Tarbiyah LDK Shaffurrahman, Pimpinan Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa dan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi (BEM Fakultas). Sebenernya saya pun sempat ditawari buat jadi presiden BEM Universitas, hanya saja saya kurang tertarik untuk beberapa alasan, akhirnya saya putuskan karir organisasi saya sampai Ketua Senat FTI saja. Nggak Cuma itu, alhamdulillah saya pun lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude. Bahkan skripsi saya pernah saya buat jurnal dengan judul “Aplikasi PustakaBasa Sebagai Media Pencegah Kepunahan Bahasa Daerah di Nusantara” dan diseminarkan di Seminar Nasional Ilmu Komputer Universitas Diponegoro 2012. Prestasi itu emang nggak ada apa-apanya kalo dibandingkan dengan banyak orang hebat lainnya, tapi saya cukup bersyukur dengan apa yang saya dapatkan dan jalani.

Kembali ke tema nyontek lagi. Inget ini bro, dalam hal apapun, nyontek itu nggak boleh ditelan bulat-bulat, kita harus selektif tentang apa yang kita contek. Sama aja kayak nyontek pas ujian. Contek jawaban dari si A yang menurut kamu si A pasti bener, dan yang mencurigakan si A ragu, jangan kamu contek, cari si B atau si C yang mungkin tau jawaban yang lebih baik. Dan kalo kamu beruntung, maka saat hasil ujian diumumin, maka nilai kamu bisa lebih baik dari si A, si B dan si C. Mangkanya kalo pun nyontek kita tetep harus belajar dulu, minimalnya belajar teknik nyontek yang baik dan benar. Jangan suudzon dlu bro, itu kata temen saya yang jago nyontek. Kalo saya sih biasa dicontekin, hahahaha :D

Ya, sama banget kayak nyontek ujian, nyontek dalam hal teladan pun kita harus selektif. Kak Anas dan Mba Icha (gitu cara saya manggil Anas dan Rika), juga punya kekurangan dan itu yang saya nggak tiru. Seperti kak Anas yang mahasiswa abadi dan nggak lulus-lulus karena keasyikan ikut organisasi akhirnya nggak beres-beres kuliahnya. Atau mba icha yang kalo ngomong susah berenti sampe pegel dengerinnya. Hehehe… ampun kak Anas dan mba Icha (^_^)v. Jadi ambil yang baik-baiknya aja.

Juga dalam hal nyontek dan meneladani kita nggak juga mesti harus tiru semua kebaikannya walaupun itu baik, pilihlah meneladi yang kita butuhkan saja. Karena tujuan kita nyontek dalam hal meneladani adalah meniru hal baik yang orang laen mungkin miliki yang kita belum punya, bukan untuk menjadi orang lain. Saat kita belajar, meneladani dan nyontek Aa Gym, maka tujuan kita adalah menjadi lebih baik dengan meniru kebaikan-kebaikan yang Aa Gym punya, bukan untuk menjadi Aa Gym versi KW.

 

Bukannya kalo nyontek orang lain itu artinya kita nggak jadi diri sendiri ya Kres?

Memangnya kamu puas dengan menjadi dirimu yang sekarang? Misalnya kamu itu adalah orang yang dikenal selalu telat, ceroboh, suka rusuh, suka buang sampah sembarangan, suka ngomongin orang, nggak pernah mau belajar, males mandi, kalo ngomong seenaknya tanpa mikirin perasaan orang lain, nggak cerdas atau bahkan suka minta rokok orang. Apa kamu mau tetep bertahan dengan diri kamu yg seperti itu yang apa adanya? Kalo kamu tetep bertahan dengan apa adanya diri kamu yang seperti itu terus, maka sampe kapan pun kamu akan tetep jadi orang yang apa adanya dan nggak ada apa-apanya. Belajar dan nyontek hal baik dari orang lain bukan berarti kita nggak jadi diri kita, tapi kita sedang membentuk karakter kita yang baru yang lebih baik. Supaya nanti kita apa adanya adalah kita yang lebih baik, lebih sholeh, lebih rajin, lebih cerdas, dan lebih berprestasi.

Jadi, nggak usah ragu buat nyontek kebaikan dan kelebihan orang lain. Susunlah potongan-potongan baik dari orang-orang hebat sehingga menjadi karakter kita dan kepribadian kita. Sehingga nanti ketika orang lain mengenal kita, maka kita akan dikenal tidak hanya menjadi diri kita yang apa adanya yang nggak ada apa-apanya, tapi menjadi diri kita yang apa adanya namun hebat.

Kita sendiri yang pilih, apakah diri kita yang apa adanya adalah seorang yang suka tidak amanah dan nggak bisa dipercaya atau diri kita apa adanya adalah orang yang amanah dan senantiasa bertanggung jawab. Kita yang pilih apakah kita yang apa adanya adalah sosok yang suka bolos atau kita yang apa adanya adalah sosok yang rajin. Kita sendiri yang pilih apakah diri kita yang apa adanya adalah orang yang berprestasi atau seorang pecundang. Pada akhirnya kita yang tentukan sendiri, siapa diri kita dan ingin dikenal dengan cara bagaimana.

SUBSCRIBE TO NEWSLETTER

About

Seorang makhluk bulan yang sedang bertamasya di Bumi. Untuk mengisi waktu luang di Bumi, doi menghabiskan waktu dengan coding, nonton anime dan tidur. Nggak suka makan sayur-sayuran. Dan punya pendapat bahwa sayur-sayuran diciptakan Tuhan bukan untuk dimakan, tapi untuk menghias makanan. Berbakat untuk mengundang perhatian. Bersama teman-temannya di Bumi, membuat sebuah website yang disebut CodePolitan. Bersama CodePolitan, doi melakukan banyak hal keren dan menyenangkan.