Mengubah Kebiasaan, 40 Hari yang Mengejutkan

This entry was posted on Sunday, September 25th, 2016.

Hari ini saya dikejutkan oleh hasil dari sebuah program yang secara sederhana saya susun sendiri 40 hari yang lalu. Saya kaget sekali dengan hasilnya. Ternyata saya bisa. Ternyata saya telah berhasil secara sadar memprogram kebiasaan saya. Dan terus terang ini di luar dugaan saya sendiri. Karena, ya ini program tanpa plan dan hanya kondisional terpikiran 40 hari yang lalu dan saya langsung terapkan begitu saja tanpa ada tendensi apapun. Dapat ide, iseng bikin program dan ternyata saya berhasil menjalankannya.

Baiklah, mungkin kamu bingung apa yang saya maksud. Saya akan coba jelaskan dari awal secara sederhana. Beberapa tahun yang lalu saya sempat membeli buku berjudul The Power of Habit karya Charles Duhigg. Buku itu sudah lama saya beli, mungkin sekitar 2 tahun yang lalu. Kabar buruknya saya nggak pernah berhasil menamatkan buku itu. Beberapa kali saya pernah berusaha membacanya, namun selalu terhenti di tengah jalan. Ya, keburu males. Begitu terus. Biasanya semangat di awal, kemudian berhenti di bab 1. Sempat paling top saya baca sampe pertengahan bab 2, namun seperti sebelumnya saya gagal dan kalah oleh kemalasan saya sendiri. Fyi, bukunya terdiri dari 3 bab.

buku-habit

Mengapa saya tertarik membeli buku ini, karena judulnya sangat menarik buat saya. Pada halaman belakang buku itu dijelaskan bahwa buku tersebut berisi tentang bagaimana sebuah kebiasaan terbentuk dan bagaimana caranya kita memanfaatkanya sehingga bisa membentuk kebiasaan yang kita inginkan. Wow sekali bukan?

Tapi betapapun buku itu sangat menarik dan menurut saya sangat penting untuk saya baca, namun berkali-kali saya gagal dan kalah oleh kemalasan saya sendiri sehingga selalu terhenti di tengah jalan dan tidak pernah menamatkan membacanya. Lebih sering tergeletak di tumpukan buku dan terabaikan bersama buku-buku yang lainnya. Jangankan memanfaatkan formula di buku itu, membacanya saja nggak pernah tamat.

Sampai akhirnya saya sampai pada 40 hari yang lalu dimana sesuatu yang mengejutkan bermula. Saya iseng membuka-buka buku tersebut lagi. Saya baca kembali bab pertama. Tidak, maksud saya, saya baca kembali prolognya (belum masuk ke dalam isi buku sebenarnya). Ada beberapa hal menarik yang pernah saya baca dan saya diingatkan kembali. Bahwasanya di situ dijelaskan bahwa “seluruh hidup kita, sejauh memiliki bentuk yang pasti, hanyalah sekumpulan kebiasaan”. Pernyataan yang sangat menarik bukan? Lebih lanjut dikatakan bahwa seorang peneliti dari Duke University pada tahun 2006 menemukan bahwa lebih dari 40% tindakan yang dilakukan orang setiap harinya bukanlah keputusan sungguhan, melainkan kebiasaan.

Dari situ saya kemudian mencoba merenungi lebih dalam. Bahwa benar sekali pernyataan tersebut. Hampir sebagian besar apa yang kita lakukan dalam hidup kita sebenarnya adalah kumpulan dari kebiasaan. Seandainya saya bisa mengubah beberapa kebiasaan saya yang saya rasa kurang produktif dengan sesuatu yang lebih produktif mungkin hidup saya menjadi lebih berkualitas.

Sedari dulu saya selalu kagum dengan orang-orang, apalagi pemuda yang melakukan sholat shubuh di masjid secara berjamaah. Saya pikir mereka sangat hebat karena mampu melawan kemalasan diri dan hangatnya kasur untuk memenuhi panggilan Allah. Bagi saya merekalah orang-orang hebat, tidak semua orang bisa melakukannya. Saya berpikir, kalau seandainya sholat shubuh berjamaah di masjid merupakan sebuah kebiasaan yang biasa saya kerjakan, maka itu akan sangat baik dan saya akan menjadi orang yang sangat beruntung dikaruniai kebiasaan tersebut. Kemudian saya berpikir lagi, kenapa tidak sekarang saja waktunya, saya coba mulai sebuah program untuk membiasakan diri sholat shubuh di masjid. Maka, saya putuskan mencoba saja dari memulai kebiasaan ini, ya sholat shubuh di masjid. Terkait berhasil atau gagal, itu urusan belakangan.

Oh ya, sampe saat ini saya belum tamat ya membaca bukunya. Saya dalam proses membacanya kembali saat ini sih. Tapi saya merasa nggak mesti menamatkan buku baru memulai perubahan, kenapa nggak paralel saja. Membaca ya membaca, memulai berubah ya mulai saja.

Ok, saya telah memutuskan untuk memulai program. Namun karena biasanya kalau program tanpa dokumentasi, maka kemungkinan besar hasilnya pun nggak optimal, bisa jadi akan saya abaikan. So, saya harus membuat sebuah dokumentasi pengukuran ketercapaian programnya secara jelas untuk melihat progresnya. Singkat cerita kemudian saya membuat tabel baris kolom serupa kalender dengan di bagian atas tabelnya saya beri keterangan nama hari. Kemudian di bawahnya saya buat kotak kotak yang memuat angka 1 sampai 40 sebagai interpretasi dari hari dan program ini berjalan. Jika saya berhasil sholat shubuh berjamaah di masjid maka akan saya centang hari tersebut. Jika saya terlewat tidak sholat shubuh berjamaah maka saya akan beri tanda silang. Ya sesimple itu saja. Saya ingin lihat selama 40 hari apa yang akan terjadi.

Bahkan karena program ini begitu spontan, saya nggak sempat membuatnya dengan komputer dan diprint. Saya cuma tulis di selembar kertas saja. Tulis tangan. Kemudian saya simpan kertas tersebut di mading di kamar saya. Dan saya putuskan semuanya dimulai sejak esok.

Agar program berjalan lancar maka sebelum tidur saya pasang alarm. Dan alhamdulillah hari pertama saya bangun di awal waktu sekitar pukul 3.30 pagi. Tiba waktu adzan shubuh saya berangkat ke masjid dan sholat berjamaah. Selesai sholat shubuh saya pulang kembali ke rumah. Dan di sinilah semuanya dimulai. Saya menceklis hari pertama saya di kertas program. Dan kamu tau apa yang saya rasakan? Ada sebuah kepuasan tersendiri yang sulit diungkapkan. Seperti saya baru saja berhasil menjalankan sebuah misi. Seperti berhasil menang dari sesuatu. Mungkin rasanya persis seperti ketika kita berhasil menelurkan sebuah karaya seperti berhasil menulis sebuah artikel, atau lukisan atau yang lainnya. Ada rasa puas yang sulit diungkapkan. Dan kamu tau, ternyata rasa puas yang saya rasakan tersebut agaknya sedikit adiktif. Saya jadi tidak sabar untuk melakukan ceklis lagi esok hari.

Esoknya hal tersebut berulang. Saya berangkat sholat shubuh ke masjid dan setelahnya saya melakukan ceklis lagi seperti hari pertama. Sudah dua hari berhasil terisi centang. Ternyata rasa puas kemarin berhasil saya rasakan lagi. Saya seperti berhasil memenangkan sebuah pertempuran. Saya putuskan untuk melakukannya lagi esok.

Ternyata ketika kita mulai merubah sebuah kebiasaan tertentu, akan ada efek domino yang mempengaruhi kebiasaan lainnya. Karena saya merasa harus bangun pagi, maka saya mulai mengatur pola tidur saya. Saya putuskan untuk tidur lebih awal dari biasanya, saya harus tidur pukul 10 malam. Atau paling lambat pukul 11 malam. Saya jadi nggak mau begadang, karena takut telat sholat shubuh di masjid.

Setelah 40 hari (hari ini hari ke-40), hasilnya sangat mengejutkan. Berikut gambar tabel program saya:

berjamaah

Mengapa ini mengejutkan buat saya? Karena saya nggak menyangka bahwa saya secara konsisten bisa melakukannya. Awalnya saya rasa, paling juga saya hanya akan bertahan beberapa hari saja kemudian bosan dan menghentikan programnya seperti yang sudah-sudah. Ternyata di luar dugaan, saya berhasil menjalankannya sampai 40 hari, dan hanya gagal 6 hari saja. Itu pun sepertinya hanya 2 hari saja saya yang benar-benar lalai, sisanya beralasan. Hari ke-12 saya tidak berjamaah di masjid karena saya sedang ada di gunung melakukan camping dan tentu saja sulit berjamaah di masjid, tapi alhamdulillah masih bisa tepat waktu melakukannya. Hari ke-13 saya kesiangan, karena sepertinya saya kecapean pulang dari camping sehingga tidur sangat lelap dan baru bangun jam 5. Hari ke-16 saya lupa charge hp, batrenya habis ketika saya tidur yang efeknya adalah alarm nggak bunyi, saya bangun ketika iqomah yang akhirnya saya putuskan sholat di rumah. Hari ke-30, 31 dan 32 saya tidak berjamaah di masjid karena saya sedang di rumah sakit menemani ayah dan adik yang sedang dirawat di rumah sakit. Karena sepanjang malam terjaga, harus bergantian tidur, jadi sholatnya saya lakukan di ruang inap saja.

Tapi overall, saya beryukur bisa menuntaskan program pembiasaan ini selama 40 hari. Walaupun tidak sempurna, tapi semoga proses pembiasaannya bisa berjalan. Semoga walaupun programnya sudah selesai, saya masih terus membiasakan diri senantiasa melanjutkan program yang baik ini, sholat shubuh berjamaah di masjid.

Saya berlindung pada Allah dari sifat riya. Semoga saya bisa menjaga niat saya ini. Sebenarnya saya tidak ingin mempublikasikan ini, namun saya rasa saya perlu melakukannya untuk syi’ar. Semoga ketika temen-temen membaca ini dan terinspirasi, temen-temen bisa mencoba melakukannya juga. Karena kalau saya saja si pemalas ini bisa, tentu temen-temen juga bisa. Tinggal mau memulai atau nggak. Tidak mesti harus sama sholat shubuh, temen-temen bisa menerapkannya untuk hal-hal lain juga sebenarnya. Apapun yang ingin temen-temen biasakan untuk dilakukan. Karena pada dasarnya ketika kita tidak melakukan sesuatu sering kali sebenarnya bukan karena kita tidak bisa dan tidak mau, tapi karena tidak biasa saja. Dan pembiasaan itu perlu latihan.

Sekali lagi, pembiasaan itu butuh latihan. Temen-temen yang sudah terbiasa sholat 5 waktu saat ini mungkin bisa merasakan ketika kita sholat ya sholat aja, temen-temen tidak lagi terbebani mau atau tidak mau, mengalir saja, mudah saja. Ketika memang waktunya sholat, temen-temen dengan ringannya melakukan sholat tanpa ada beban. Bahkan ketika temen-temen belum sholat, pasti ada sesuatu yang kurang dan merasa bersalah jika tidak melakukannya. Nah itulah efek dari pembiasaan. Hal itu terjadi tidak sebentar, proses pembiasaan panjang sejak kecil yang telah membentuknya. Mungkin temen-temen masih ingat ketika kecil untuk sholat kita dipaksa oleh orang tua kita, sering kali kita merasa ogah-ogahan, dan orang tua kita memarahi supaya kita sholat. Mungkin saja dulu waktu kecil kita sholat hanya karena takut dimarahi orang tua kita, atau karena dijanjikan hadiah sesuatu ketika berhasil sholat 5 waktu. Apapun alasan kita waktu itu, yang terjadi sebenarnya adalah kita sedang menjalani program pembiasaan yang dilakukan oleh orang tua kita. Sehingga sekarang, tanpa ada orang yang memarahi kita pun kita tetap bisa sholat, tidak perlu ada yang melihat, tidak perlu ada yang menyuruh, tidak perlu ada yang memberi hadiah, kita sholat ya sholat aja. Kebiasaannya sudah tertanam.

program

Banyak sekali kebiasaan-kebaisaan yang ingin saya tanamkan dalam keseharian saya. Tapi saya tidak ingin terburu-buru. Perbaikan diri apalagi memprogram kebiasaan itu membutuhkan waktu. Setelah ini yang ingin saya lakukan adalah mencoba membiasakan diri untuk tidak tidur lagi setelah sholat shubuh. Itu dulu, dan saya sudah membuat tabel programnya. Semoga kali ini pun berjalan lancar :D

tidak-tidur-shubuh

Sekali lagi, saya berlindung pada Allah yang maha membolak balik hati dari sifat ujub dan riya. Semoga Allah membantu saya meluruskan niat.

Semoga kita menjadi orang yang kian berkualitas dari hari ke hari, kian bertakwa dari hari ke hari. Caranya dengan sedikit demi sedikit kita perbaiki pola hidup kita dan ibadah kita. Dimulai dari membiasakan hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan. Karena tidak mungkin ada peningkatan baik itu kualitas maupun ketakwaan jika kita hanya melakukan hal yang sama tanpa ada usaha untuk meningkatkannya. Kita mulai dengan merubah sedikit demi sedikit kebiasaan-kebiasaan kita dengan kebiasan-kebiasaan yang lebih baik. Karena sejatinya ketika kita merubah kebiasaan-kebiasaan kita, saat itu pulalah kita sedang merubah hidup kita. Change your habit, change your life.

Saya sedang berusaha merubah kebiasaan-kebiasaan saya, dimulai dengan tidak tidur setelah sholat shubuh. Kamu?

SUBSCRIBE TO NEWSLETTER

About

Seorang makhluk bulan yang sedang bertamasya di Bumi. Untuk mengisi waktu luang di Bumi, doi menghabiskan waktu dengan coding, nonton anime dan tidur. Nggak suka makan sayur-sayuran. Dan punya pendapat bahwa sayur-sayuran diciptakan Tuhan bukan untuk dimakan, tapi untuk menghias makanan. Berbakat untuk mengundang perhatian. Bersama teman-temannya di Bumi, membuat sebuah website yang disebut CodePolitan. Bersama CodePolitan, doi melakukan banyak hal keren dan menyenangkan.